BATURAJA, RAKYAT BERITA.COM – Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga Dinas PUPR OKU, Ardiansyah Danial, akhirnya buka suara. Ia merespons sorotan tajam publik terkait proyek jalan Desa Gunung Meraksa yang amburadul. Seperti lagu lama kaset kusut, faktor cuaca kembali menjadi kambing hitam utama.
Ardiansyah berdalih curah hujan tinggi memicu kekacauan teknis di lapangan. Guyuran air membuat penyiapan badan jalan berubah menjadi bubur lumpur labil. Kondisi ini membuat kendaraan pengangkut material sulit menembus lokasi.
Ia mengklaim penghamparan Agregat B secara langsung justru akan sia-sia. Tanah dasar yang lembek tidak mungkin sanggup menopang material standar tersebut. Karena itu, pelaksana mengambil langkah darurat di lapangan.
Strategi “Blasting” Penyelamat?
Pihaknya sengaja menghamparkan blasting atau agregat kasar terlebih dahulu. Ardiansyah menyebut langkah ini bertujuan memadatkan struktur jalan yang hancur. Setelah padat, barulah kontraktor akan menghamparkan Agregat B yang sesungguhnya.

Sang Kabid menegaskan pekerjaan tersebut masih dalam tahap pengerjaan alias belum rampung. Hingga detik ini, belum ada Serah Terima Sementara Pekerjaan atau Provisional Hand Over (PHO).
Ardiansyah pun berani menjamin pekerjaan tidak menyimpang dari kontrak kerja. Ia meminta publik memahami teknis pemadatan tersebut. Menurutnya, semua masih berjalan sesuai koridor teknis.
Denda Menanti Kontraktor
Meski punya seribu alasan cuaca, keterlambatan tetaplah dosa kontraktor. Ardiansyah memastikan penyedia jasa tidak akan lolos begitu saja. Konsekuensi pahit menanti mereka akibat kerja lelet.
Pihaknya menerapkan aturan tegas sesuai klausul kontrak yang berlaku. Kontraktor wajib menelan sanksi denda keterlambatan. Dinas berjanji akan menagih denda tersebut tanpa kompromi.
Rakyat OKU tampaknya harus lebih sabar menikmati jalan berlumpur. Sementara itu, kontraktor cukup membayar denda dan melenggang santai. (Win)
Peningkatan Jalan Gunung Meraksa Amburadul, Kabid PUPR OKU Berdalih Faktor Cuaca Dijadikan Tameng






